Aku meletakkan setiap keluh pada tiap bait puisi yang kutulis, agar segala penat ini luruh tanpa ada sisa yang tergaris

Lalu setelah semua bait itu penuh, aku bisa menyapamu lewat imaji yang bergemuruh

Demi segala harga diri yang tersisa, aku menolak untuk terlena dalam canda tawa maya

Tempat kita kini bersua bertukar rasa tanpa tatap muka dan riuhnya suara

Ya, hanya lewat sederet aksara yang menari di depan layar kaca

Aku menghapus butir demi butir rinduku padamu namun menggeleng pelan pada setiap candu pesonamu

Karena siapa tahu gerak-gerik kalbu yang terkadang hanya menipu


Solo, 6 Desember 2011


--------------------------------------------------------------------------------------------------

Racauan ini juga dapat dilihat di tumblr saya pradhabasu.tumblr.com :)